Perusahaan China-Malaysia Bangun Sawah Rp 20 Triliun di Indonesia

Kuala Lumpur : Kelompok
agribisnis China-Malaysia tengah berupaya
membangun lahan persawahan dan proyek
pengolahan terpadu pada November
mendatang di Indonesia. Dengan dana
investasi US$ 2 miliar (Rp 20,3 triliun),
perusahaan China ini berharap bisa
memasuki pasar berkembang di tanah air
sekaligus memenuhi pasokan beras
domestik.
Seperti dilansir dari Malaysia Chronicle, Senin
(22/7/2013), perusahaan perkebunan China
Liaoning Wufeng Agricultural telah
menandatangani nota kesepakatan kerja
sama dengan Malaysian Amarak Group dan
perusahaan lokal Indonesia, Tri Indah
Mandiri.
Wufeng merupakan pemodal utama dalam
rencana pengembangan dan pengolahan
padi dan kedelai di Subang, Jawa Barat,
Indonesia. Amarak diketahui berkontribusi
sebesar 20% dari investasi awal di tanah air
tersebut. Sebuah laporan menyatakan
jumlah investasi tersebut bisa berkembang
mencapai US$ 5 miliar (Rp 50,8 triliun).
CEO Wufeng, Ma Dian Cheng mengatakan
perusahaannya akan segera mendirikan
anak perusahaan lokal lain atas nama
Wufeng di dalam negeri. Tujuannya adalah
untuk mempermudah pengadaan beberapa
fasilitas proses pengolahan beras terpadu
dengan Amarak.
Ma mengatakan 80% dari produksi
kelompok perusahaan tersebut akan
memenuhi pasar Indonesia. Perusahaan
tersebut diketahui akan memproduksi cuka
dan minyak dari olahan padi.
Setelah ekstraksi minyak, sekam akan
dibakar dan bisa menghasilkan listrik untuk
keperluan penggilingan padi. Sementara hasi
penggilingan padi dengan silika sendiri
dapat digunakan untuk manufaktur ban.
“Dengan fasilitas pengolahan kami, tak ada
satupun yang terbuang. Kami adalah
perintis dari berbagai teknologi di China dan
kami ingin berbagi manfaat teknologi
tersebut pada Indonesia,” jelas Ma.
Dia lebih lanjut menjelaskan, investasi di
Indonesia dapat berkisar di harga US$ 1
miliar hingga US$ 2 miliar yang diperuntukan
bagi berbagai penelitian teknis.
Tri Indah sendiri tengah bekerja sama
dengan para petani lokal guna menyiapkan
50 ribu hektare (ha) lahan percobaan di
Jawa Barat.
Ma mengatakan perusahaan akan
berkolaborasi dengan sejumlah universtias
lokal untuk mengembangkan teknologi
pengolahan padi dan menghasilkan beras
berkualitas tinggi.
Sementara Wufeng berencana mengimpor
sebagian besar mesin pengolahannya dari
China dan menggeser semua mesin lokal
yang ada. Ma memastikan kualitas mesinnya
lebih baik daripada yang ada di Indonesia.
Sejak didirikan pada 2000, Wufeng memiliki
24 lahan dan 2 ribu karyawan di provinsi
Liaoning, China. Perusahaannya terus gencar
melakukan perluasan bisnis ke Thailand,
Vietnam, Kamboja dimana banyak padi
ditanam untuk memasok kebutuhan beras di
kawasan China daratan.
Proyek di Indonesia akan menjadi usaha
patungan Wufeng yang pertama dan
diharapkan dapat memenuhi pasar luar
negeri. Direktur Amarak Saadiah Osman
mengatakan, usaha patungannya tersebut
akan menyediakan modal untuk menggarap
lebih dari satu juta hektare lahan
persawahan di Indonesia.
Ma mengatakan rencananya untuk tinggal di
Indonesia dalam waktu lama mengingat
investasi agrikultur membutuhkan
kesabaran untuk memperoleh return.
“Kami akan tinggal di Indonesia, karena
negara ini pun menyambut baik niat kami,”
ujar Ma. Dari penawaran saham perdananya
pada publik di Shanghai atau Hong Kong
tahun ini, dia berencana menambah
investasinya sebesar US$ 1 miliar. (Sis/Shd.liputan6.com)

About hachmadi

sharing apa yang bisa kita berikan dan pelajari dari kelebihan orang lain untuk perbaikan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: