Senandung Al-Qur’an di Nafas Terakhir

Waktu terasa berjalan sangat pelan. Pagi masih begitu lama. Malam ini akan berlalu tanpa tidur nyenyak dan istirahat yang lelap. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi saya. Kami ditugaskan mengontrol dan mem-follow up pasien-pasien dengan penyakit kritis. Malam itu, saya dan beberapa teman lainnya mendapat giliran jaga di ruang High Care Unit (HCU) Penyakit Dalam. Tempat pasien-pasien dewasa dengan stadium terminal dirawat. Tiap hari ada saja brankar yang didorong ke kamar jenazah yang diiringi oleh wajah sedih dan tangisan para keluarga.

Kami mendapat order dari dokter residen untuk memberikan perhatian lebih pada beberapa pasien. Pertama, kita sebut saja Bapak A yang dirawat dengan komplikasi diabetes melitus yang sudah sangat berat; kadar gula yang sangat tinggi, penurunan kesadaran dan gagal ginjal. Kami diberi pesan untuk memeriksa gula darahnya secara berkala untuk menentukan dosis insulin yang diberikan.Pemeriksaan kadar gula darah dan tanda-tanda vitalnya inilah yang membuat kami tidak bisa tidur semalaman. Pasien kedua, Bapak B yang menderita sirosis hati yang merupakan komplikasi hepatitis B. Bapak B ini sudah mengalami hematemesis atau muntah darah karena ada varises di pembuluh darah di saluran cerna atasnya. Transfusi darah harus dilakukan untuk menaikkan kadar hemoglobinnya. Kami secara berkala ditugaskan mengambil darah dan dikirim ke laboratorium. Dua orang pasien ini saja sudah membuat kami seperti setrikaan, padahal ada lebih 20 pasien dirawat di ruangan ini. Kebayangkan !?

Tiba-tiba keluarga pasien B memanggil kami untuk melihat kondisi ayahnya. Setiba di bed si Bapak, saya mendapatkan beliau sedang dalam kondisi delirium. Delirium adalah suatu reaksi organic mendadak berupa perubahan kesadaran yang berkabut, disertai dengan gangguan atensi, orientasi, memori, persepsi, gelisah, delusi dan agitasi. Orang awam biasanya menyebut kondisi ini dengan meracau. Yang membuat saya terkejut adalah kata-kata yang keluar dari mulutnya. Semua kata-kata kasar dan koleksi kebun binatang keluar dari mulut si bapak.Kicauan yang berisi sumpah serapah itu menjadi music latar yang menemani kami jaga. Banyak keluarga pasien yang terganggu dan memilih keluar karena tidak tahan dengan carut marut itu.Bagi kami, perubahan kesadaran ini menjadi pertanda memburuknya kondisi pasien.

Selang satu jam kemudian, giliran keluarga Bapak A mendatangi kami. Segera kami mendatangi tempat tidur beliau.Sontak saya tak bisa berkata apa-apa saat itu.Bapak ini juga mengalami delirium, sama seperti bapak B. Namun yang membuat saya terkesiap dan speechless adalah isi racauannya. Bukan sumpah serapah yang keluar dari mulutnya, tapi adalah ayat-ayat suci Al Quran.Malam itu beliau seperti seorang hafizh quran yang sedang menyetor hapalannya dengan mata tertutup.Entah ayat dan surat apa yang dibacanya, tapi saya yakin bahwa yang dibacanya itu adalah ayat-ayat indah Al Quran.

Sampai subuh menjelang, suara dua bapak yang tak sadar ini bersahut-sahutan memenuhi ruangan HCU. Di sudut kanan Bapak B bercarut marut dengan koleksi hewannya kontras dengan Bapak A di tengah dengan lantunan ayat-ayat sucinya. Sesaat saya tercengang.Selama menjalani kepaniteraan klinik senior di rumah sakit, baru kali ini saya melihat dengan mata kepala sendiri pasien yang mengalami sakaratul maut sedramatis ini. Hati saya benar-benar bergidik malam itu. Seakan saya melihat malaikat maut sedang berputar-putar dan menunggu perintah untuk mencabut jiwa-jiwa dari raganya yang telah digerogoti penyakit.

Saya jadi ingat kata-kata guru ngaji saya dulu; setiap orang akan dimatikan seperti apa perilakunya ketika hidup. Saya baru meyakini kata-kata itu setelah mengalami kejadian malam itu. Pagi hari saya mendengar kabar kedua bapak itu telah meninggalkan dunia.Sebuah pengalaman spiritual yang takkan bisa saya lupakan seumur hidup. Sebuah pelajaran teramat mahal dari Allah pada kami para tenaga medis yang sudah terbiasa dengan kematian.Kematian yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap muslim, tapi sering itu menjadi sesuatu yang biasa saja bagi kami. Saking sering dan ‘biasanya’ melihat orang yang sedang berjuang dengan maut.Semoga Tuhan tidak sedang mematikan hati kami.

Bapak yang ‘bersenandung’ dengan ayat-ayat Al Quran itu jelas membuat saya semakin penasaran. Sedangkan bapak yang satu lagi saya tak perlu mencari tahu, isi racauannya sudah menjelaskan tentang masa lalunya. Malam itu saya sempatkan bertanya kepada anak-anaknya tentang kebiasaan ayah mereka selama hidup. Penjelasan mereka sungguh membuat saya tercenung. Ayah mereka adalah seorang alim. Sehari-hari beliau selalu mengusahakan shalat berjamaah di masjid, terutama setelah pensiun dari pegawai. Satu hal yang tak pernah beliau lewatkan setelah shalat wajib adalah membaca Al Quran.Satu hari ayah mereka selalu membaca satu juz. Dalam satu bulan beliau khatam 30 juz.Hmm, pantas saja saat delirium, ayat-ayat suci yang sudah biasa beliau baca yang keluar dari mulutnya.

About hachmadi

sharing apa yang bisa kita berikan dan pelajari dari kelebihan orang lain untuk perbaikan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: